Kamis, 06 Desember 2012

Evil of Corruption




“Jangan lupa akan penderitaan perintis dan pelopor kemerdekaan bangsamu. Mereka telah mendahului kamu sekalian! Mereka tidak mewariskan kemewahan bagimu pribadi masing-masing. Melainkan mereka mewariskan amanat penderitaan rakyatmu; amanat yang mengandung dua pesan, yakni:



Pertama: Jagalah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

Kedua  : Bangunkanlah masyarakat gotong royong, adil dan makmur, bebas dari penghisapan dan kemelaratan.



Peganglah teguh dua amanat penderitaan ini. Peganglah teguh, Laksana Obor yang diserahkan padamu untuk kamu nyalakan terus menyinari jalan perjuangannya Bangsa dan Negara.” (kutipan pidato pertama Bung Karno di depan Istana Negara sekembalinya dari Yogyakarta, 1949)



Semenjak orde baru dilengserkan oleh orde reformasi (perubahan), keadaan negeri ini tidak mengalami perubahan dan perbaikan dalam hal penyelamatan sumber daya alamnya. Malah sepertinya para pemegang mandat rakyat yang katanya reformis malah kongkalikong menggerogotinya modal dasar bangsa ini, yang diawasi (eksekutif) dengan yang mengawasi (legeslatif) menjadikannya proyek bancaan bersama demi keuntungan pribadi dan kelompoknya. Sialnya lagi, hukum (yudikatif) sebagai benteng terakhir yang diharapkan dapat memberi efek jera bagi koruptor justru ikut juga dalam bancaan tersebut.

Tiga lembaga negara yang diberi mandat oleh rakyat untuk membuat negeri ini adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia justru seperti ‘segitiga setan’. Keadaan ini sungguh tragis di negeri (katanya) ‘gemah ripah loh jinawi’ tapi rakyatnya hidup sengsara sedangkan para pemimpinnya asyik hidup mewah. Keadaan ini akan melahirkan generasi-generasi bermental korup karena dianggap budaya (biasa) disebabkan hukumnya  yang impoten.

Sikap pesimis dan distrust terhadap para pemimpin negeri ini seperti ‘bom waktu’, tinggal menunggu kapan meledaknya. Kalo begini  terus keadaannya maka kehidupan berbangsa dan bernegara akan terancam pecah belah.

Negeri ini butuh pemimpin yang AMANAH dan BERANI melakukan terobosan-terobosan hukum dan kebijakan yang berpihak kepada keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Salam Budaya
Afriani


Rabu, 05 Desember 2012

Ondel-Ondel (Riwayatmu Kini)




Keterbukaan dan pesatnya arus globalisasi membuat kota megapolitan sebagai berandanya negeri ini tak kuasa menahan derasnya budaya asing yang masuk silih berganti. Disadari atau tidak, hal ini berdampak pada kearifan lokal yang lambat laun mulai terpinggirkan. Hal ini bisa dirasakan dengan perubahan prilaku pada generasi saat ini, yang mulai ‘demam’ dengan budaya asing dan mempraktekannya dalam pergaulannya. Hal lain juga dapat dilihat dengan mudahnya mengakses kuliner-kuliner asing di lokasi strategis dan seringnya seni budaya asing tampil di gedung-gedung pertunjukan/tempat-tempat strategis lainnya. Ini berbanding terbalik dengan budaya lokalnya, yang hanya diberi ruang 1 tahun sekali.

Budaya Betawi ‘[di]sembunyi[kan]?’ di panggungnya sendiri.

Salah satunya, ondel-ondel pun mencari dunianya sendiri agar bisa tetap eksis ditengah-tengah hegemoni budaya asing.
Pinggiran kota dan perkampungan menjadi tempat yang ideal untuk ber ekspresi sekaligus mencari rezeki.  
Melestarikan budaya harus dilakukan secara berkesinambungan agar tak hilang tertelan zaman.
Budaya mempunyai nilai-nilai luhur, yang selalu mengajarkan kebaikan bagi alam semesta
Apalah artinya kota megapolitan tapi generasinya kehilangan jati dirinya.
Runtuhnya peradaban ditandai dengan hilangnya budaya.

Paling tidak, keseimbangan antara modernisasi dan budaya lokalnya harus tetap terus dijaga dan seniman mempunyai peranan penting dalam hal ini.

Salam Budaya
Afriani

Soul of Freedom

http://www.saatchiart.com/art/Painting-Soul-Freedom/315137/218653/view
Afriani Soul Freedom 150 x 190 cm Oil on Canvas 2012

Dunia ideal, bagi setiap orang, ada di pikirannya sendiri.
Dunia yang dibangun berdasarkan persepsi pribadi.
Kebanyakan bertentangan dengan dunia ideal menurut versi yang lain.
Setiap orang mendambakan kehidupan yang ideal di dunianya.

“Apa yang dilihat, didengar, dipikirkan dan dirasakan..terkadang bisa berbeda-beda eksekusinya..disitulah seninya..”

Dalam dunia seni rupa, setiap seniman mempunyai persepsi ‘ideal’ masing-masing.
Seperti manusia pada umumnya, seniman sudah pasti menghadapi realita kehidupan manusia dengan profesi lainnya, namun karena profesi seniman lebih kepada sebagai creator, sehingga sangat erat hubungannya dengan emosi, fikiran, perasaan atau jiwa seorang seniman.

Hidup dengan berbagai persoalannya membuat seniman di sadari atau tidak terkadang dikendalikan oleh hal-hal dari luar dirinya, membuat seniman jadi terpasung atau memasung dirinya sendiri.
Sedangkan  dalam berkaya  diperlukan kebebasan berfikir, ber ekspresi  dan berimajinasi  yang  akan dituangkan lewat berbagai media, untuk itu diperlukan keberanian dan keteguhan hati untuk menerjang segala rintangan, karena gagasan-gagasan luar biasa akan lahir dari JIWA YANG MERDEKA.

Salam
Afriani




Selasa, 04 Desember 2012

Pameran Tunggal Pertama Afriani "Vox Populi" di Grand Sahid Jaya Jakarta - 2010 (Artworks)








Kuratorial "Vox Populi" (Katalog)



Agus Dermawan T.

Afriani dan “Vox Populi”

Pameran tunggal Afriani, pelukis otodidak kelahiran Selayo, Sumatera Barat 1974, diberi juluk “Vox Populi”. Kata ungkapan bahasa Latin itu artinya “suara rakyat jelata”, atau suara orang kebanyakan. Kata itu dipetik dari ungkapan yang populer ratusan tahun lalu di belahan dunia Barat, “vox populi vox Dei”, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Judul ini tentu mengacu kepada karya-karya Afriani yang senantiasa menggambarkan kehidupan rakyat kecil. Dunia rakyat memang tampil begitu eksplisit, sehingga lukisannya hadir selayak foto-foto jurnalistik. Namun oleh karena Afriani mengolahnya lewat proses seleksi obyek dan perenungan atas adegan dan peristiwa, yang nampak di mata kita adalah sublimasi dari gambaran-gambaran jurnalistik. Dengan begitu lukisan-lukisannya tidak sekadar menyuguhkan kejadian, tapi juga menawarkan sejumlah pesan. Dari jajaran kanvas Afriani kita menangkap adanya 2 sifat presentasi. Yang pertama lukisan yang menggambarkan kejadian dengan sikap yang netral. Yang kedua lukisan yang mengungkap kejadian dengan upaya menyuratkan metafora.

Untuk kategori pertama bisa kita lihat lewat “The Forgotten”, “Kuli Malam”, “Calon Bintang”, “Sarimin in Action” dan “MasaNya”. Termasuk “Tak Ada Lagi Tempat Bermain”, lukisan yang dengan detil menggambarkan anak-anak gembira bermain di kawasan berbahaya. Dalam lukisan ini Afriani sanggup menghidupkan atmosfir kehidupan anak-anak tuna hiburan yang sedang asyik bermain di rel sebelah sini, sementara kereta api berjalan mendengus dan mengancam di sebelah sana.

 Dalam lukisan-lukisan kategori ini Afriani nampak tidak ingin berkata-kata jauh selain keinginan untuk mengungkap rasa empati. Karyanya tidak menyiratkan gugatan atas kenyataan, misalnya : betapa ternyata semakin banyak generasi baru bangsa Indonesia yang miskin dan tak berdaya. Afriani memposisikan lukisannya sebagai potret realitas.

Lukisan-lukisan kategori kedua terlihat pada “Dilema”, “Menyemir Asa”,  “Atas Nama”, “Apa Kabar,Bung!”, Souvenirs of War” , “Menatap Cahaya Terang" (Pasca Gempa Sumbar) serta “Pewaris Semangat”. Sebagai pelukis asal Sumatera Barat, bagaimanapun dirinya sering terlibat dalam alam pikiran yang biasanya terungkap dalam sastra. Pantun yang banyak kiasan, prosa yang menyampaikan berbagai metafora.

Lukisan “Dilema” menggambarkan para pedagang kecil berjualan di bantaran kereta api, adalah sebuah rekaman yang menyiratkan pesan kepada Pemerintah, bahwa rakyat kecil perlu lahan untuk berusaha. Apabila pihak yang berkewajiban mengelola hajat hidup masyarakat berdiam saja, maka rakyat kecil seperti pedagang itu selalu dihadapkan kepada kenyataan gila : berdagang di rel sungguh berbahaya, tapi bila tak berdagang, mau makan apa?

“Apa Kabar,Bung!” menghadirkan gambar pemulung kardus yang melewati patung Bung Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia yang mencanangkan pemikiran kesejahteraan bangsa. Tapi pemikiran itu tak teralisasi jadi kenyataan, sehingga cuma jadi warisan kata-kata belaka. “Souvenirs of War” adalah gugatan yang atas perang dan terorisme yang meluluhlantakkan apa saja. Di sini Afriani dengan elok menggambarkan monumen asap dan debu, lambang kehancuran kehidupan. Lalu dengan sudut pandang yang indah ia melukiskan situasi pasca gempa di Sumatera Barat tahun 2009 lalu dalam “Menatap Cahaya Terang" (Gempa Sumatera Barat). Di situ nampak seorang ibu dan anaknya sedang menatap reruntuhan bangunan di bumi yang koyak. Ibu dan anak itu optimis untuk terus mengalahkan derita.

"Menyemir Asa” merekam kontrasitas dua kehidupan. Di belakang seorang bocah yang menyemir sepatu untuk sesuap nasi, nampak dua anak orang berada sedang memandangi etalasi toko yang mendisplay barang mewah. Semantara “Pewaris Semangat” memperlihatkan seorang pengamen cilik yang biasa menyanyikan lagu tentang hidup yang kalah tetapi tetap semangat dalam menggapai impian, sedang mengagumi patung Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Nasional.
     
Namun sesakit-sakitnya nasib, perasaan syukur atas kehidupan yang diberikan oleh Tuhan selalu terucap di hati terdalam rakyat jelata. Afriani melukiskan perasaan itu lewat lukisan seorang penjual pisang yang sedang menghitung penghasilannya yang sejengkalan tangan. Atas uangnya yang tipis penjual pisang itu berguman dengan hati tenteram “yah..lumayanlah” , bagai tertulis sebagai judul lukisan.

Merubah paradigma.

Afriani melukis dunia rakyat adalah untuk melaporkan keadaan rakyat kepada masyarakat luas, dan sekaligus untuk menyuarakan hati rakyat kepada siapa pun yang menatap lukisannya. Dengan bahasa realismenya ia ingin lukisannya juga dinikmati oleh rakyat. Namun Afriani menyadari, bahwa upayanya melukis dunia rakyat, dan untuk dinikmati oleh rakyat, hanya merupakan satu noktah belaka dari sejarah panjang seniman yang mencoba merubah paradigma tujuan penciptaan seni. Dari situ kita lantas gampang diingatkan, betapa pada sebentangan masa silam seni lukis (dan seni rupa pada umumnya) sangat acap diciptakan bukan untuk rakyat jelata, atau bukan untuk orang-orang biasa. Dari situ memori kita diajak berjalan menjumpai sederet perupa pengisi sejarah.

Atas Michelangelo yang menggubah mural di plafon kapel Sistine, Roma misalnya. Pelukis dan pematung ini berkarya untuk kepentingan Paus dan gereja. Atau Raden Saleh yang melukis potret dan pemandangan untuk para bangsawan di Jawa, Belanda dan Jerman. Atau pelukis legendaris Jan Vermeer, Rembrandt sampai Frans Hals yang melayani pesanan orang-orang kaya di Eropa.

Prinsip penciptaan yang mengiblatkan seni kepada “yang tertinggi” itu mulai ditolak keharusannya di Eropa pada abad 18. Dr.Astri Wright, dalam kitab Modern Indonesian Art, Three Generation of Tradition and Change 1945 – 1990 (Joseph Fischer, ed), pada artikel Painting the People mencatat, gejala keluarnya para pelukis Eropa dari kecenderungan di atas diinspirasi oleh Revolusi Prancis. Juga oleh karya-karya Hogarth, pelukis dan penggambar radikal Inggris. Sejak itu para pelukis dan pematung mulai mencoba menggambarkan kehidupan rakyat biasa.

Dan umumnya rakyat tersebut dilukiskan dalam setting yang menghasilkan cerita. Semua ini lantas bisa dihubungkan dengan Revolusi Industri, di mana rakyat kebanyakan seperti pengusaha kecil, administratur sampai buruh hadir di masyarakat sebagai kelompok dominan. Di Indonesia Astri Wright melihat fenomena semacam itu secara jelas lewat karya Sudjana Kerton, Hendra Gunawan dan Djoko Pekik. Dan selanjutnya dia harus mencatat nama Afriani.

Masih dalam halimun sejarah seni rupa Barat, pada masa kemudian pelukis yang biasa bekerja untuk para bangsawan dan sehari-harinya bermain di istana pemerintahan mulai berani melukiskan “realitas lain” di balik gemerlap dan tertibnya istana, seperti yang dicontohkan oleh Francisco de Goya. Keberanian menghadirkan realitas ini diteruskan pelukis-pelukis zaman setelahnya, seperti Eugene Delacroix, Ingres, Gericault dan sebagainya. Di sini siapa pun sah untuk melukis apa saja dan siapa saja di kanvas-kanvasnya.

Di Indonesia seni rupa yang berangkat dari konsep “melukis rakyat biasa” itu secara proklamatif bergema ketika Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia) muncul pada 1938. Dalam anjurannya, Sudjojono, juru bicara perkumpulan itu, mengajak setiap pelukis mencipta dengan alam pikirannya sendiri sebagai rakyat, dengan dunia hatinya sendiri sebagai rakyat, dan mengenai lingkungan hidupnya sendiri, lingkungan hidup rakyat. Sudjojono menganggap bahwa, dengan merengkuh ide yang berangkat dari dunia sendiri itu akan muncul seni lukis yang jujur, berkepribadian, dan Indonesiawi. Dan karya-karya rakyat yang kerakyatan ini dianggapnya akan lebih bermanfaat bagi kebangkitan sebuah negeri, yang dihuni oleh orang-orang biasa. Karena seniman yang mewakili hati-pikir rakyat adalah spes patriae, penabur harapan di tanah air. Semangat Sudjojono ini jelas diteruskan oleh Afriani.

Vox populi, vox dei.                            

Dalam perkembangan pemahaman berkonteks seni lukis, istilah ”rakyat biasa” akhirnya terelaborasi sebagai “obyek-obyek biasa dari orang-orang atau jelata”. Pilihan ini barangkali terkait dengan penafsiran bahwa sesungguhnya, di mana-mana, rakyat adalah (justru) penguasa. Dan rakyat adalah kebenaran yang berkuasa, sehingga muncul ungkapan “vox populi vox Dei”, suara rakyat adalah suara Tuhan. Atau seperti yang dikatakan orator dan negarawan Inggris Edmund Burke (1729-1797),  “The People are the masters”, rakyat adalah raja. Lantas pelukis pun, termasuk Afriani, melukis rakyat, memandang dengan serius segala yang ada di tengah rakyat, dan memanifestasikan segala hal yang dilakukan rakyat. Karena rakyat adalah yang utama.

Perluasan pemahaman atas arti rakyat akhirnya menjadikan seniman seperti Afriani terus melacak posisinya sendiri, yang sesungguhnya ternyata tidak lebih rendah dari raja, presiden, penguasa, menteri, hartawan dan sebagainya. Oleh karena itu, pelukis-rakyat yang melukis tentang rakyat seperti dirinya bukanlah harus mengabdi kepada negara. Sebaliknya negaralah yang harus mengayomi mahluk yang bernama pelukis, yang tak lain adalah rakyat. Bicara dalam lingkup politis, bukankah Aristoteles jauh hari telah menjelaskan, bahwa tujuan dibentuknya sebuah negara misalnya, justru untuk menyejahterakan rakyat. Dan samasekali bukan untuk yang lain? Pelukis Afriani sangat mengerti logika ini.

Dari pemahaman ini akhirnya terbaca bahwa seni yang sifatnya kerakyatan tentulah tidak dimonopoli oleh seni yang dalam manifestasinya semata-mata menjelas-jelaskan situasi kehidupan rakyat, bagai yang ditunjukkan oleh “realisme sosial” di Tiongkok era Mao Tse Tung, di Uni Soviet sebelum reformasi, atau di era Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) tahun 1960-an dulu. Karena dalam setiap lukisan yang dihasilkan oleh elemen rakyat yang berpikiran sebagai rakyat, senantiasa terkandung nilai-nilai kerakyatan. Sekalipun yang dilukiskan tidak lagi semata menggambarkan kepengapan hidup rakyat jelata.

Keapikan lukisan-lukisan Afriani, salah satu bintang Jakarta Art Awards 2008 (menurut kritikus Bambang Bujono di majalah TEMPO), menjelaskan dan membenarkan pendapat itu. Rekamannya atas kehidupan rakyat, dan pilihannya atas sisi-sisi hidup rakyat, tidak diiringi hasrat untuk berteriak : “Ini lho kondisi rakyat Indonesia”. Ia melukiskan segalanya lantaran sebuah empati yang dalam, dengan hati dan pikiran yang tenang.

Karena itu, untuk menutup artikel ini baik apabila ditawarkan sederet pantun klasik yang biasa dibacakan di kampung halaman Afriani. Sepetik karya sastra lisan dan tulisan yang patut direnungkan oleh para pengelola negeri :

Bila orang lupakan diri,
banyaklah bala yang menghampiri

Bila orang lupa pakaian
banyaklah kerja yang bersalahan.

Kalau sudah lupakan diri.
alamat bala menimpa negeri

Kalau sudah lupa pakaian,
di sinilah tempat masuknya setan

Lupa diri binasa negeri
lupa pakaian binasa iman.
                   
Agus Dermawan T.
Kritikus, penulis buku-buku seni rupa.                      




Catatan dari Seorang Pencinta Seni (Katalog)


    Kegelisahan seorang Ibu

 “Ketika pelukis Afriani beserta keluarga pindah ke Jakarta dari Batam, dia tentu berharap dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Bukankah Jakarta merupakan ibu kota negara, kota yang penuh dengan gedung bertingkat dan kota yang menjanjikan kesempatan bagi orang-orang kreatif. Afriani kemudian berdiam bersama warga lain di pemukiman kumuh. Dia menyaksikan anak-anak yang harus bermain di rel kereta api, pedagang pinggir jalan yang berkali-kali terkena razia dan anak-anak yang harus mengerjakan pekerjaan sekolah di kamar sumpek. Air bersih sukar didapat. Ke toilet harus bergantian.Jakarta ternyata bukanlah kota yang ramah untuk keluarga Afriani. Untuk hidup di Jakarta perlu biaya dan
biaya hidup yang layak ternyata tidak sedikit. Kehidupan mereka yang berjuang hidup di perumahan kumuh dan pedagang yang setiap hari berjualan di pinggir jalan dalam suasana tak tenang terekam dalam lukisan Afriani.Ketika setiap hari dia melihat bahkan ikut merasakan kehidupan tersebut dia mencurahkan kegelisahannya di kanvas. Betapa tidak gelisah, sebagai seorang perempuan, juga seorang ibu, dia mendambakan kehidupan yang layak untuk anaknya tumbuh dan berkembang. Gizi yang baik, sekolah, tempat bermain serta lingkungan sosial yang mendukung anak tumbuh dan berkembang menjadi remaja harapan bangsa. Namun kenyataannya dia menyaksikan anak-anak ketakutan ketika melihat razia kamtib, anak-anak telah menyaksikan kekerasan dan ketidakadilan. Haruskah Afriani menyerah pada keadaan dan hanya memotret lingkungannya?

  Afriani dapat menjadikan kegelisahannya menjadi hal yang positif. Dia tak perlu berkeluh kesah.Kemiskinan, ketidakadilan yang disaksikannya sehari-hari dapat menjadi titik tolak untuk mengadakan perubahan. Kita harus menjadi masyarakat yang lebih sejahtera, berpendidikan dan memiliki taraf kesehatan yang lebih baik. Lukisan Afriani banyak menggambarkan kehidupan ibu dan anak. Ternyata di tengah kesulitan yang dihadapi kita dapat menyaksikan ibu yang penuh kasih sayang memandikan anaknya. Anak-anak yang dengan gembira bermain bola dan tak kalah pentingnya anak-anak yang tetap belajar meski di kamar sumpek. Di lukisan Afriani kita menyaksikan mata-mata yang penuh harapan. Kita tak menyaksikan kebencian dan dendam karena perubahan yang kita harapkan di masyarakat hendaknya dilakukan dengan empati dan kasih sayang. Mudah-mudahan lukisan Afriani yang dipamerkan ini, sempat disaksikan oleh mereka yang memimpikan perubahan nyata pada masyarakat miskin. Para pejabat, aktivis LSM, tokoh agama, akademisi serta anggota masyarakat lain hendaknya peduli pada keadaan yang dilukiskan Afriani serta tergerak hati mereka untuk merubahnya”.


Prof. Dr. Samsuridjal Djauzi
Pencinta Seni