Rabu, 23 September 2015

My Artworks in Solo Exhibition Afriani:"Be The Winner" 2015

Petarung Sejati 150x200 cm OoC 2015

Siapapun Berhak Jadi Pemenang 150x200 cm OoC 2015

Siap Bertarung 150x150 cm OoC 2015

Berawal Dari Mimpi 200x150 cm OoC 2015

Saatnya Bangkit 150x200 cm OoC 2015

Metamorfosis 150x190 cm OoC 2015

Kepompong Besi 150x200 cm OoC 2015

Kepompong Emas 150x200 cm OoC 2015

Takdir Pemenang 300x150 cm (2 panel) OoC 2015

Padamu Aku Berjanji 200x150 cm OoC 2015

Antara Kesetiaan & Kebebasan 150x150 cm OoC 2015

Menaklukan Rasa Takut 150x200 cm OoC 2015

Pergulatan 150x150 cm OoC 2015

Mengejar Tantangan 150x150 cm OoC 2015

Mendobrak Tradisi 150x200 cm Pastel,Color Pencil,Oil on Canvas 2015
Para Pelintas Batas 200x150 cm OoC 2015
Introspeksi 150x200 cm Pastel on Canvas 2015

Matematis 150x200 cm OoC 2015

Indah Pada Saatnya 150x150 cm OoC 2015

Be The Winner  500x200 cm (4 panel) OoC 2015

         
Solo Exhibition Afriani:"Be The Winner" at Galeri 678 Kemang - Jakarta
26 August - 6 September 2015

Terima kasih kepada semua pihak yang membantu & mendukung pameran ini..
Terima kasih kepada rekan-rekan media, teman-teman seniman/perupa & para pecinta seni
atas apresiasi & perhatiannya pada pameran tunggal ke 3 saya ini...

Salam hangat,
Afriani

Kuratorial oleh Kuss Indarto



Antara Pemenang dan Pecundang

Oleh Kuss Indarto

MENYIMAK karya-karya lukis Afriani dalam tiga kali pameran tunggalnya seperti menatap irisan kecil panorama Indonesia yang penuh keburaman—meski ada cercah harapan. Menonton bentang-bentang kanvas Afriani dalam sewindu terakhir seperti merunuti pergeseran visual juga perkembangan substansi karya yang cukup tertata dan lumayan terkonsep. Dari pameran tunggal pertamanya tahun 2010 yang bertajuk “Vox Populi” lalu berlanjut pada “Prahara Sunyi” (tahun 2013), hingga “Be The Winner” yang dipresentasikan kali ini, apresian—setidaknya saya—bisa melihat dan merasakan gerak evolutif dari perjalanan kreatif seorang perupa yang berhasrat kuat membuat titik-titik pencapaian dari waktu ke waktu. Perkembangan dan gerak yang evolutif tampaknya menjadi modus dan pilihannya. Bukan bergerak secara revolutif/revolusioner atau terlalu kontras dan bergegas sehingga sangat mungkin melenyapkan jejak langkah kreatif yang ditorehkan sebelumnya. Karya yang dikerjakannya untuk pameran kali ini masih menemukan titik sambung dengan hasil kreasinya sekitar 5-8 tahun lalu.
     Pada pameran tunggal “Vox Populi” Afriani banyak menampilkan citra visual tentang kontras-kontras sosial yang terjadi dalam masyarakat. Kontras-kontras itu disodorkan dalam kanvas seperti sebuah opini personal atas kondisi masyarakat yang ditemui di sekitarnya. Di sini, perupa ini seperti menempatkan dirinya dalam potret penuh kekontrasan tersebut karena, bisa jadi, dia juga bagian dari masyarakat yang tiap hari hidup dalam tempaan kerasnya megapolitan Jakarta yang penuh dengan kekontrasan sosial. Sang seniman ini menampilkan dirinya sebagai homo astheticus (makhluk seni) sekaligus sebagai homo socius (makhlus sosial). Pada titik ini, maka kefasihan untuk menampilkan kontradiksi atau kontras sosial terasa pada karya-karya Afriani. Ada, misalnya, lukisan yang menggambarkan sesosok anak kecil yang terempas menjadi anak jalanan dan mengamen untuk menghidupi dirinya (pada lukisan “Pewaris Semangat”, 2009). Sosok tersebut menghadap patung Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan yang juga menjadi Menteri Pendidikan dan Pengajaran pada awal-awal kemerdekaan RI. Saya kira sang seniman sengaja “membenturkan” gambaran yang kontras tersebut sekaligus beropini bahwa dunia pendidikan di Indoneia masih saja menghadapi problem yang paling elementer, yakni kemiskinan yang mengempaskan anak-anak dari keluarga tak mampu yang tak terserap ke dunia pendidikan karena problem ekonomi.
       Ada pula lukisan “Kuli Malam” (2010) yang menggambarkan betapa kerasnya para pejuang keluarga itu bergelut mencari sesuap makanan dengan mengorbankan waktunya berpisah dengan anak-istri ketika malam tiba. Di latar belakang mereka, ada konstruksi jalan tol yang tengah mereka kerjakan demi mobil-mobil gilap yang butuh medan perlintasan menembus kemacetan Jakarta. Para buruh itu mungkin tak akan menikmati hasil pekerjaannya tersebut, namun keringatnya ikut memuluskan jalan yang dilewati para pemilik mobil mewah. Tema pameran kali itu, “Vox Populi”, sengaja tidak dilengkapi seperti ungkapan asli bahasa Latin “vox populi vox dei” (suara rakyat, suara Tuhan). Dari penjudulan itu terlihat bahwa Afriani tidak sedang bergegabah bahwa rakyat bukanlah kumpulan sosok suci yang “disetarakan” dengan Tuhan. Rakyat ya rakyat dengan segala kemanusiawiannya, namun dalam konteks tertentu bisa menginspirasi sesamanya dengan nilai-nilai tentang ketuhanan—lewat aksi kepedulian antar-mereka, solidaritasnya, dan lain-lain.
      Berikutnya, pada pameran “Prahara Sunyi”, citra visual tentang kontradiksi dalam sosial kemasyarakatan makin dikuatkan pada karya-karya Afriani. Lebih dari itu, anak-anak sebagai subyek utama atas tema sosial itu seperti secara sadar menjadi bagian penting dalam karya-karya tersebut. Ada kisah tentang anak-anak yang harus mencari uang dengan menjual jasa ojek payung dalam lukisan “Behind the Rain” (2011), anak-anak yang tidak terjagai oleh orang tuanya di rumah sehingga lebih banyak bergaul dengan televisi (“Terbuai”, 2010), atau narasi tentang anak-anak yang kehilangan waktu untuk belajar karena mesti menjadi nomaden mengikuti orang tuanya yang tuna wisma dan terus-menerus tergusur oleh angkuhnya gurita pembangunan megapolitan Jakarta (“Nomaden”, 2011).
      Seperti yang saya katakan di bagian awal, ada pergeseran yang gradual dan evolutif pada pilihan tema perbincangan dalam karya Afriani. Dugaan saya, sebagai kreator perupa ini melakukannya secara sadar sebagai bagian dari kerangka estetika yang coba dibangunnya secara bertahap. Apalagi ketika karya-karya tersebut dikumpulkan dan dipresentasikannya dalam sebuah perhelatan, maka kesadaran untuk memuat benang merah dan titip sambung antarkarya—baik secara visual maupun substansial—tampak menjadi perhatian utamanya.

***

LALU, kali ini pameran tunggal ketiganya, “Be the Winner”, dihelat setelah melalui proses yang tidak singkat dan sederhana. Hal khusus apa yang ditawarkan dalam pameran? Adakah perubahan atau pergeseran yang signifikan di dalamnya? Apa tema besar yang igin dikomunikasikannya?
     Saya mencoba sedikit menguliti garis pemikiran tentang tema “Be the Winner” ini dari catatan yang dituliskan sendiri oleh Afriani. Katanya: “…Dalam usaha manusia untuk menjadi lebih baik ini saya menyebutnya sebagai sebuah “pertarungan”. Pergulatan manusia akan terus berlangsung seolah seperti tak pernah akan selesai, hingga batas waktu yang diberikan Sang Khalik, baik itu pergulatan (pertarungan) lahir maupun batin untuk menyempurnakan takdir kehidupannya menjadi pemenang…”
       Pernyataan tersebut seperti mengisyaratkan sebuah kehendak yang kuat untuk menjadikan jagat seni rupa sebagai pilihan profesinya ini sekaligus sebagai medan “pertarungan” dalam bersiasat dengan hidup. Situasi psikologis ini dikuatkan oleh fakta-fakta obyektif yang saya duga menuntutnya lebih serius masuk dalam medan pertarungan. Pertama, Afriani bukanlah seniman yang berasal dari jalur akademis, namun merangkak dari dunia otodidak, dan datang dari kawasan Selayo, Sumatera Barat, lalu besar di Batam, yang tidak dikenal sebagai kawasan penting seni rupa di tanah air. Fakta ini memberi dorongan dari dalam diri Afriani untuk bergerak dengan lebih terukur dan sistematis untuk mengejar banyak ketertinggalan—baik dari segi teknis maupun penalaran. Seperti kita pahami bersama, dewasa ini dunia seni rupa Indonesia (seperti halnya kawasan lain di dunia) banyak didominasi dan didinamisasi oleh para perupa dari jalur akademik. Maka, kesadaran perupa perempuan ini untuk melakukan “pertarungan” demi upaya menyejajarkan diri dengan seniman akademik bukanlah perkara mudah, namun jelas bukan tidak mungkin.
       Kedua, dugaan bahwa fighting spirit untuk bertarung ini mengemuka dari faktor “historis-genealogis” dirinya sebagai urang awak Minangkabau. Boleh saja ini dianggap mengada-ada, namun dalam catatan sejarah ranah Minang adalah kawasan dengan kultur dan adat istiadat matriarkal yang relatif masih terawat dimana posisi perempuan sangat berperan kuat dalam perikehidupan sehari-hari, bahkan hingga secara politis. Bahkan dalam konteks tertentu—seperti yang dicatat oleh Jeffrey Hadler dalam “Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme di Minangkabau” (2010), bahwa perempuan (MInangkabau) lebih baik dalam hal “menanamkan benih, menyusun mehatap mehatoen, menyusun makanan di atas piring, karang mengarang bunga, menjahit menakat, melukis, menulis, menggambar, menerawang, merenda, menenun, menganyam dinding bambu, dan tikar dan lainnya. Maka, “pertarungan” Afriani dalam konteks ini adalah upayanya untuk merunuti semangat juangnya yang memang berkait secara genealogis. Kutipan catatan itu menjadi pengingat bahwa perempuan Minangkabau diasumsikan sebagai sosok yang siap bertarung dan penuh kemandirian.
      Sementara dalam tinjauan visual dan substansinya, saya melihat ada pergeseran yang cukup kentara ketimbang dua pameran tunggal sebelumnya—yang sedikit banyak menyoal perkara sosial lewat sosok anak-anak. Kali ini, Afriani tidak sedikit menghadirkan diri sebagai subyek bagi karyanya untuk kemudian menerawang membincangkan beragam perkara yang melingkupi diri. Pola dan modus seperti ini memang bukanlah perkara baru. Dalam 15 tahun terakhir, di Indonesia, beberapa perupa juga telah melakukan hal serupa. Sebut dan ingatlah karya-karya Agus Suwage, Entang Wiharso, Jumaldi Alfi, Budi Kustarto, Edo Pilu, Asmudjo J. Irianto dan sekian banyak nama lain. Kecenderungan itu juga mengglobal dan lama karena telah dilakukan oleh para seniman besar di belahan dunia lain dan telah terjadi dalam rentang waktu jauh sebelum ini. Mereka menempatkan sosok dirinya dalam kanvas/karya sebagai representasi, jembatan persoalan atau titik berangkat bagi persoalan besar di luar dirinya.
     Siasat kreatif semacam ini juga terjadi pada Afriani. Sebut misalnya pada karya-karya bertajuk “Perjalanan”, “Metamorfosa”, “Takdir Pemenang”, dan “Introspeksi”. Penghadiran diri itu seperti menegaskan bahwa tubuh diri (Afriani) adalah juga tubuh sosial. Wajah diri (Afriani) adalah wajah sosial. Potret diri adalah representasi atas segala problem sosial kemasyarakatan yang bersinggungan bahkan melekat satu sama lain. Potret diri juga seperti sebuah hasrat dari sang seniman yang menjatuhkan dirinya dalam sebuah persoalan, sembari memungkinkan diri untuk menawarkan cercah solusi.
       Namun ada titik beda menarik pada karya-karya Afriani, termasuk yang menghadirkan dirinya dalam kanvas. Seniman kelahiran 5 April 1974 ini saya kira tidak begitu “keras” membincangkan problem sosial kemasyarakatan, namun menyeretnya dalam lingkup pembahasan yang bernuansa spiritual(itas) dan filosofis. Perkara “pertarungan” dan “pergulatan” hidup itu seperti dirunutnya kembali secara kronologis mulai dari proses muasalnya manusia, yakni sperma, lalu proses embrio manusia, jabang bayi, hingga seterusnya ketika sosok-sosok manusia menjalani proses alamiah menjadi besar, remaja, dewasa, dan seterusnya. Kronologi ini bagaikan cermin dan medan pengingat bagi apresian yang disodorkan oleh si seniman agar manusia kembali menyadari bahwa tiap tahap perjalanan manusia itu adalah proses pertarungan dengan level-level yang selaras dengan kurun usia berikut segala kesulitas dan kemudahannya, kestabilan dan dinamikanya.
        Proses perjalanan manusia yang kronologis itu, bagi masyarakat dengan latar belakang budaya Jawa, tentu akan mengingatkan pada deretan tembang macapat yang juga berbincang tentang tahap-tahap (waktu) hidup bagi manusia tersebut. Macapat atau maca papat (membaca tiap empat suku kata) adalah salah satu jenis puisi yang dikenal dalam tradisi sastra Jawa, selain kakawin, kidung, wangsalan, parikan, dan geguritan. Bentuk macapat mempunyai aturan yang sangat memikat yang disebut dengan guru lagu, wilangan, dan guru gatra.
       Kita tahu kalau, misalnya, ketika masih dalam wujud sperma lalu berkembang menjadi janin, maka tembang yang tepat untuk mengiringi kurun tersebut adalah tembang macapat Maskumambang. Janin pun tengah berjuang dalam perut untuk bisa bertahan hidup, dan dipertahankan untuk bisa lahir dengan selamat. Penamaan “maskumambang” kiranya sebuah penghormatan bahwa janin adalah emas (mas) yang kemambang (terapung) di dalam kandungan sang ibu. Nada macapat pada tembang Maskumambang biasanya sudah distandarkan sebagai “nelangsa kelara-lara”, penuh kenelangsaan dan tangis karena masuk dalam masa keprihatinan.
         Demikian pula ketika kemudian masuk dalam tahap berikutnya, yakni sang janin lahir sebagai bayi. Maka tembang macapat yang tepat untuk mengiringi masa ini adalah tembang Mijil. Ritme dan isinya penuh dengan nuansa cinta kasih dan sayang. Selanjutnya memakai Sinom ketika masuk masa remaja, Kinanthi (saat pencarian jati diri), Asmaradhana (saat jatuh cinta), Gambuh (saat berkomitmen untuk berumah tangga), Dhangdhanggula (sukses bertumah tangga), Durma (masa untuk berderma), Pangkur (mungkur, mengurangi hal duniawi), Megatruh (masa cerai dengan ruh, kematian), dan Pucung (saat dipocong menuju liang lahat).
       Saya lihat, Afriani dengan sadar memberi tahapan-tahapan yang kronologis tentang pertarungan dan perjuangan manusia—bahkan mulai ketika bakal manusia masih berupa sperma. Kita bersama-sama mengetahui bahwa untuk berproses menjadi embrio dan janin pun, jutaan sperma yang berhambur ketika orgasme (setelah melewati proses intercourse) harus bersaing dan “bertarung” mendapatkan sel telur untuk dibuahi (simak karya bertajuk “Petarung Sejati”).
         Demikian pula tatkala ketika pertarungan itu berlangsung secara simbolik. Afriani mengemukakan simbol visual kepompong hingga dibuat dalam beberapa bentang kanvas—di antaranya menampilkan potret diri sang seniman. Pada hewan tertentu seperti ulat, kita tahu, dalam siklus hidupnya mengalami proses metamorfosa fisik yang berujung menjadi kupu-kupu yang wujudnya relatif paling indah ketimbang proses sebelumnya. Proses menjadi kepompong itulah tahapan yang dianggap paling krusial ketika dia harus mengering, tergantung, hingga lalu secara pelahan terlepas dari cangkang kepompong dan menjelma menjadi kupu-kupu. Pada “tabung” kepompong itulah proses kawah candradimuka berlangsung. Dalam tinjauan spiritualitas, proses tersebut bisa dimaknai sebagai sebuah proses asketik, yakni ketika sang ulat melepaskan problem fisikalitas sebelumnya, menyepi, menyembunyikan diri dari dunia luar, masuk dalam kesunyian, mengurangi makan, bertapa, hingga kemudian hadir dalam kerangka “eksistensi” yang berbeda: menjadi kupu-kupu.
        Ini tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai perubahan fisik belaka, namun ada problem spiritualitas yang mendalam yang menyertai perubahan tersebut. Ada banyak “pertarungan” yang menyertai di dalamnya. Saya kira ini juga menjadi bagian dari kesadaran spiritual(itas) Afriani sehinga perlu membuat karya dengan simbol visual kepompong hingga beberapa buah.

***

Deretan karya perupa perempuan ini terasa melewati proses perwujudan karya yang lambat-laun mulai menyublim. Pemunculan beragam dunia simbolnya pun terasa relatif halus (eufemistik). Bukan sekadar menampilkan jagat simbol tersebut secara mentah, lugas, dan apa adanya. Ada “pertarungan” dalam proses perwujudannya. Pergeseran seperti ini tentu tidak mudah karena seorang seniman, bisa jadi, membutuhkan proses waktu yang relatif lama, melewati perenungan yang tak sedikit, pembacaan tanda-tanda atas semua gejala yang tumbuh di sekitar diri dan imajinasinya, dan lain-lain.
     Afriani, saya duga, berusaha keras untuk mengakrabi gejala-gejala sosial dan simbol-simbol visual yang tumbuh di lingkungan dan batok kepalanya. Semua itu harus digali, ditimba, disaring, untuk kemudian diserapnya sesuai ketepatan gagasan dasarnya. Saya mengenal lebih dekat karyanya pertama kali ketika menguratori Pameran Nusantara 2009 di Galeri Nasional Indonesia dengan tajuk kuratorial “Menilik Akar”. Dalam beberapa kali perbincangan, saya mendapati bahwa sosok seniman perempuan ini berupaya keras untuk mengingkari kemandegan kreatif dengan cara dan subyektivitasnya. Ketika di berada Batam, atau di Ancol, atau di tempat lain yang telah sekian lama disuntuki itu dianggapnya tak lagi menyuburkan kreativitas pada karyanya, maka dia berusaha untuk mengambil “jarak”, mengoreksi, untuk memicu diri menjadi lebih berkembang. Kesadaran dirinya sebagai seniman otodidak yang tak mudah untuk mendapatkan posisi penting dalam peta seni rupa, menjadikannya harus bertarung lebih keras lagi. Pameran tunggalnya kali ini, kiranya, menjadi titik penting untuk melanjutkan perjalanan kreatifnya sebagai seorang petarung. Apakah Afriani akan menjadi “Be the Winner” atau justru sebaliknya sebagai “be the looser”, menjadi pemenang atau pecundang, semuanya bergantung pada seberapa besar spirit bertarungnya saat ini dan ke depan, serta seberapa dalam dia mampu memaknai tiap jejak langkah pertarungan yang telah ditorehkannya.
      Bertarung terus-menerus akan memungkinkan dirinya menjadi The Winner. Hidup ini, kata Albert Einstein, seperti orang yang mengendarai sepeda. Kita akan terjatuh kalau berhenti mengayuhnya. Dan semoga Afriani tahu persis bagaimana dan kapan harus mengayuh roda seni dan kreativitasnya. Selamat berpameran. ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa, dan editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id

Catatan oleh Romo Mudji Sutrisno SJ.



METAMORFOSA SANG PEMENANG
Oleh. Mudji Sutrisno SJ.
(Budayawan)


I.       Seorang anak laki-laki seumur SD tanpa baju sedang duduk mengamati ujung jari kakinya yang berdarah. Apakah luka tersandung atau tertimpa sesuatu, namun tetap wajah si anak dan sapuan warna-warna realis mampu memunculkan suasana luka dan keadaan melarat pada lukisan Afriani yang diberikan ke saya saat pameran lukisan-lukisannya beberapa tahun yang lalu. Afriani membawa sendiri lukisan itu dengan sepeda motor ke kami. Saya terpana karena cara berterima kasihnya amat mendalam, bersahaja hingga lukisan itu terpajang di pintu masuk kamar menyalamiku untuk selalu ingat sisi kehidupan miskin dan derita di kebanyakan saudara-saudari kita.
Afriani sebagai pelukis perempuan memang lekat dengan kepekaan merasakan kehidupan seiris dilapis perjuangan-perjuangan mereka yang meskipun luka dan miskin namun pantang menyerah untuk terus bertahan dan menanggungnya.
Potret keluarga manusia-manusia gerobak yang semakin banyak kita jumpai di Jakarta karena jurang menganga kaya dan miskin menjadi salah satu lukisan di pamerannya di TIM waktu itu. Dan wajah-wajah penderita namun tetap berani hidup, muncul menyentuh ketika Afriani pameran dalam bingkai pelukis perempuan hari Kartini di Museum Nasional Jakarta 4 atau 3 tahun yang lalu. Pernah dalam kisahnya, ketika melukis langsung di kampung-kampung miskin penghuni rel-rel kereta api, sekelompok anak-anak muda dari nyanyi-nyanyi riang ketika beriringan jalan tiba-tiba berhenti diam terpaku memperhatikan Afriani yang sedang melukis wajah-wajah penghuni bantaran rel-rel kereta api yang kuat menggugat dalam wajah-wajah melarat seakan bertanya pada yang sedang bernyanyi-nyanyi itu: kalian memandang kami saudara-saudaramu kah? Apa yang kalian buat untuk peduli nasib kami? Itu semua menjadi warna dasar realisme sisi kehidupan dari mereka-mereka yang meskipun luka dan melarat tetapi pantang menyerah pada kehidupan ini.

II.     Mengapa Afriani mempu melukis kenyataan kehidupan dari mereka-mereka ini hingga mampu menyentuh hati, membuat yang melihat lukisan-lukisannya dibangunkan dari rutinitas acuh tak acuh pada luka hidup untuk merenungi siapa-siapa mereka yang berani hidup dalam keterbatasan? Ada dua oasisnya. Pertama, karena ia langsung melukis ‘realis’ di lapangan, di tempat langsung kehidupan dipergulatkan, diperjuangkan dan dipotret proses memaknainya. Yang kedua, karena Afriani melukis dengan hati merenung, menghayati laku introspektif terhadap kehidupan ini dari lapisannya yang paling apa adanya , yang paling ‘realis’ luka-lukanya hidup ini namun sekaligus Afriani menangkap dengan batinnya bagaimana mereka-mereka ini, anak-anak bangsa tercinta ini ingin tetap tabah, tetap hidup dalam menjalani destiny of life dan berani menghayatinya dengan semangat terus berjuang.

III.    Saya membaca dari pameran-pameran sebelumnya dalam tema luka dan derita hidup yang dijalani oleh pelaku-pelakunya itu ketika dihayati dalam permenungan batin seorang Afriani (yang selalu menaruh hati perempuannya sebagai ibu yang melahirkan kehidupan dalam anaknya dan suami) tapak demi tapak dalam langkah demi langkah pasti berproses pada pertanyaan mendasar dan mendalam: semangat apa dan daya hidup manakah yang membuat mereka-mereka ini terus berani hidup dan tidak menyerah!. Dan benarkah, pada pameran mutakhirnya ini, saya berbahagia sekali menemukan tahapan ‘makna mendalam’ proses melukisnya Afriani yang ia endapkan dalam kanvas-kanvas berjudul ‘Be Winner (of life)’. Lihatlah, bahasa eksplorasi Afriani dalam warna-warni dan lukis realisnya ingin mengajak kita semua menemukan dalam menghayati hidup ini sikap-sikap pantang menyerah dan tetap semangat karena sejak proses menjadi ‘manusia’ sebelum foetus di rahim, secara eksistensial hidup ini sudah merupakan perjuangan untuk survival. Lihatlah lukisan ‘petarung sejati’, dimana spermatozoid berjuang, berkompetisi menemukan sel telur untuk memulai hidup itu memberi syarat yaitu sikap hidup berani bertarung. Proses hidup dalam kandungan yang diluaskan dalam universum rahim semesta mengajak kita untuk siap bertarung (lihatlah lukisan siap bertarung). Namun bukan Afriani bila tidak menaruh titik hening yang menggelitik relung nurani manusia untuk apa kita hidup? Kemana proses hidup ini dan harkat kemerdekaan pilihan mana yang harus dihadapi ketika evolusi Darwin misalnya menegaskan teorinya tentang survival of the fittest, hanya yang kuat yang akan menang dan hidup terus. Justru Afriani bermaksud menolak pendapat ini, sebab dalam renungannya mengenai sang pemenang dalam hidup ia menegaskan di lukisannya: siapapun berhak untuk jadi pemenang. Inikah buah endapan eksplorasinya Afriani dengan masuk dan live in di hati mereka-mereka yang berjuang terus untuk hidup? Dia mau menyemangati setiap pelaku hidup ini untuk menjadi pemenang dalam tidak menyerah pada kemelaratan, persoalan hidup, tragedi dan musibah. Bukan pemenang dalam lawan hitung-hitungan angka dan politis menang dan kalah, tetapi pemenang dalam memberi kualitas hidup, memberi makna benar, menggoreskan warna suci dan sapuan lirih lembut kebaikan bahkan merayakan indahnya hidup karena terus maju pantang melakukan yang jahat, yang bathil dalam korupsi di negara ini.
Be winner qualitatively, jadilah pemenang kehidupan secara berkualitas ini dibahasakan Afriani dalam 3 ziarahnya.
Ziarah pertama: Keimanan untuk percaya diri menghayati dan memaknai perjalanan lukisan dan hidupnya sebagai takdir pemenang dengan tandas dan tegas maju melangkah dengan telunjuk memaknai semesta. Disini ziarah Afriani menjumpai pergulatan-pergulatan (lihat lukisannya yang meski dalam pergulatan namun senyum tetap menyungging di wajah-wajah harapan). Lihat pula keberanian ‘mengejar tantangan’ dan rintangan-rintangan belenggu para pelintas batas, ada yang gagal menyerah namun ada yang terus melangkah meskipun kaki dihambat borgol-borgol berbeban.  
Ziarah kedua: Afriani merasa sadar diri dalam menjalani hidup ini kadang harus berani ‘mendobrak tradisi’. Menarik menafsir lukisan penciptaan manusia dengan memberi ruh (daya hidup) Michelangelo ditembus tembok oleh dobrakan kaki melangkah yang mengoyak lukisan Michelangelo itu untuk berani menembusnya. Cukupkah dobrakan langkah sekedar mengoyak tradisi tanpa introspeksi seorang Afriani yang merenungi langkah-langkah pantang menyerahnya? Tidak cukup hanya melukis dan mengkanvaskan dalam warna-i pengalaman-pengalaman hidup dalam kuantitas. Afriani merasa membutuhkan proses panjang hening untuk sampai ke ‘metamorfosa’ agar proses metamorfosa yang paling disimbolkan dengan tahapan sebagai ulat lalu kepompong baru kemudian terbanglah kupu-kupu indah bisa dijalani atau diziarahi, ia butuh mengawali dengan mimpi pantang menyerah untuk berani hidup. Tahap kepompong harus dipergulatkan karena kepompongnya itu kepompong besi bahkan menggiurkan dalam kepompong emas. Namun, dobrakan keluar kepompong dibutuhkan sang pemenang yang pro life (demi pemuliaan hidup) ini agar proses metamorfosa menjadi ziarah kehidupan sang pemenang.
Akhirnya, Ziarah ketiga: proses bangkit dari kepompong untuk keluar dan lahir sebagai kupu-kupu yang terbang dilengkapi kesetiaan dan kebebasan untuk berjuang mengajak rekan-rekan sebangsa dan setanah air untuk bergandeng tangan sama-sama berani hidup dengan semangat pantang menyerah di tanah air Indonesia. Apa itu? ‘Padamu aku berjanji’ sebuah lukisan dahsyat merangkum proses hidup ulat sutera di daun pemberi makan Indonesia untuk berjanji berani hidup dan pantang menyerah memuliakannya agar lahir kupu-kupu indah ragam warna-i keIndonesiaan. Jangan lupa proses kualitatifnya harus melalui metamorfosa yang berawal dari mimpi.

Selamat berpameran Afriani.

Salam Pro-life

Mudji Sutrisno SJ.
(Budayawan)     

Selasa, 22 September 2015

Kata Pengantar dari Bapak Syakieb Sungkar



Hidup Eksistensial Afriani
Oleh : Syakieb Sungkar


Saya selalu kagum dengan Afriani. Karena gaya melukisnya yang cermat. Saya mulai memperhatikannya semenjak dia menjadi finalis Jakarta Art Award 7 tahun yang lalu. Memang Lukisan realis adalah salah satu tema favorit saya. Namun kali ini Afriani mengejutkan, karena pemilihan temanya yang ekistensial. Yaitu soal kelahiran - tantangan hidup - survival dan keinginan untuk menang.

Entah kenapa saya menyukai Kierkegaard, filsuf kelahiran Denmark yang berpunuk (hunchback) dan kedua kakinya tidak sama panjang sehingga jalannya pincang. Kierkegaard mempunyai keyakinan umurnya tidak lebih dari 35 tahun mengingat semua keluarganya cuma bertahan hidup sampai maksimum 21 tahun saja karena sakit.

Ketidaksempurnaan lahiriah membuat Kierkegaard menjadi seorang yang sinis dan sensitif. Namun dibalik itu dia dianugerahi akal yang cerdas dan mulut yang tajam. Sehingga dia dapat memikirkan hubungan antara yang fana atau mewaktu (temporal) dengan yang abadi (eternal). Menurutnya manusia meskipun hidup dalam waktu, manusia juga memiliki gagasan mengenai keabadian. Gagasan ini membuat manusia ingin memahami peristiwa-peristiwa temporal dalam hidupnya. Kita tidak suka melihat kehidupan kita hanya kumpulan potongan-potongan peristiwa yang tidak mempunyai koherensi dan makna. Kita mendambakan sesuatu yang lebih besar, yang dapat mengatasi dan "memayungi" semua peristiwa yang kita alami dalam hidup kita (transcendence). Dalam kemewaktuannya, manusia mendambakan keabadian.

Itulah tragedi manusia, sebab waktu - perubahan lewat waktu untuk melakukan yang kita inginkan - adalah sisi pahit yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Seandainya manusia hanya hewan belaka, tanpa keinginan dan dambaan akan keabadian atau transedensi, barangkali hidup kita akan jauh lebih mudah. Namun kita ingin survive, sehingga dalam situasi dan waktu apapun kita harus menang. Terhadap hidup dan terhadap waktu itu sendiri.

Perhatikan lukisan "Petarung Sejati", sekumpulan sperma berdesak-desakan untuk menguasai dunia. Kemudian sperma tersebut berkembang menjadi janin yang pada karya "Siapapun Berhak Jadi Pemenang" digambarkan sebagai calon manusia yang hidup dalam gelembung. Ada banyak gelembung yang melayang-layang memenuhi kanvas berlatar biru itu. Pada "Siap Bertarung", gambaran dunia yang tenang itu berubah menjadi putaran yang menyeramkan, mirip badai siklon yang siap memporak porandakan gelembung-gelembung janin itu.

Kemudian janin itu lahirlah ke dunia. Dan hukum besi dari kehidupan  adalah, manusia mempunyai keinginan dan impian, digambarkan pada "Berawal Dari Mimpi". Impian itulah yang menjadi trigger atau pendorong agar manusia bisa maju dan juara. Namun sisi buruk dari ambisi adalah kita harus bekerja keras dan siap gagal. Kierkegaard mengatakan bahwa kehidupan itu adalah dialektika antara kegagalan dan usaha. Agar manusia menjadi paham bahwa kehidupan itu tidak mudah dan kita harus memperbaiki diri agar hidup menjadi lebih baik.

Demikianlah, pada karya-karya berikutnya saya melihat simbol-simbol kehidupan yang berubah. Dicerminkan dalam metafor kepompong, ulat dan kupu-kupu. Kita melihat ada Afriani yang masih dalam kepompong ("Metamorfosa"), ulat yang tergeletak pada daun rapuh berpetakan Indonesia ("Padamu Aku Berjanji"), kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya setelah bermetamorfosis dari ulat ("Indah Pada Saatnya"), manusia yang keluar dari kepompong ("Saatnya Bangkit"). Dan rupanya ada ketegangan antara Afriani yang dulu dengan yang sekarang, diasosiasikan dengan keluar dari kepompong ("Kepompong Emas") dan layar masa lalu perlu dijebol ("Mendobrak Tradisi"). Mungkin kungkungan itu demikian kuatnya sehingga digambarkan sebagai penjara ("Kepompong Besi").

Tarikan antara tradisi dan keinginan untuk maju digambarkan sekali lagi dalam "Antara Kesetiaan Dan Kebebasan". Simbol-simbol yang digambarkan terlihat jelas. Ada kepompong sebagai amsal kungkungan, ada bulan purnama yang indah di luar sana, sebagai lambang cita-cita. Ada burung hantu yang merindukan bulan. Namun ada sosok hitam yang menyeramkan yang mengingatkan bahwa di luar sana hidup tidak mudah juga.

Setelah lepas dari kepompong, sesosok manusia menantang kehidupan dengan gagah, berdiri di atas kapal layar ("Mengejar Tantangan"). Afriani yang berjalan menantang dunia ("Takdir Pemenang"). Dan dalam hidup kita harus jungkir balik dan bersaing ("Pergulatan") dalam kehidupan yang keras ("Pelintas Batas").

Saya ingin menutup rekaan intepretasi saya atas karya-karya Afriani dengan dua lukisan terakhir, yaitu "Introspeksi", Afriani berdiri membelakangi dan dihadapannya adalah wajah-wajah yang sepertinya tersapu air terjun berwarna hijau. Representasi siapakah wajah-wajah itu? Orang tua, sanak saudara, tetangga atau teman-teman? Dan pada akhirnya Afriani mendengar juga nasihat dari para senior dan orang sekelilingnya, setelah susah payah menjebol pintu kungkungan yang digambarkan sebagai kepompong emas dan kepompong besi itu.

Lukisan yang lain adalah "Matematis" digambarkan jam dinding tergantung pada tembok yang berisi coretan rumus. Mengapa ada jam disana? Apakah itu menggambarkan kesadaran Afriani atas waktu yang ingin dikalahkannya melalui rumus kehidupan? Ataukah itu menggambarkan kesadaran akan kehidupan kita yang mewaktu, bahwa untuk menjadi pemenang ("Be The Winner") kita harus memperhatikan keterbatasan kita atas waktu, jangan sampai hidup eksistensial kita dikalahkannya dengan sia-sia.

Barangkali apa yang saya ungkapan diatas tidak sesuai dengan maksud pelukisnya, namun menurut ilmu Hermeneutika modern, begitu karya sudah ditandatangani dan selesai, maka menjadi hak khalayak untuk mengartikannya. Pelukis sudah mati (meminjam istilah sastra, Wolfgang Iser) begitu karyanya dipublikasikan. Sekarang tibalah pemirsa memberikan terjemahan dan apresiasi.

Dalam kumpulan lukisan Afriani kali ini, kita tidak melihat lagi romantisme pemandangan dan kehidupan sosial seperti pada lukisan-lukisan sebelumnya. Afriani sudah berkembang, lebih konseptual dan filosofis. Namun sebagai konsekuensinya pemirsa diajak merenung tentang pesan-pesan yang ingin disampaikan. Semoga ini akan menjadikan arus baru dalam kehidupan berkesenian Afriani yang selanjutnya. Selalu mencari dan menggali.